Pagi yang dingin akhir Maret di Hachiman machi. Putik sakura perlahan muncul di balik tirai apartemen menghadap ke hantaran luas lembah pinggiran sungai Hirose dan jajaran gunung Aoba. Seorang wanita dengan mantel coklat berjalan di pelataran parkiran, sesekali menendang kerikil, menatap merah lampu . Ia bisa menatap burung gagak di atap gereja, hijau pinus di arah barat, dan semilir cerah matahari di arah timur, tetapi ia tidak sedang menatap ke timur ataupun ke barat. Ia menatap ke depan, ke arah kerlip lampu hijau yang baru saja mengharuskannya melangkahkan kaki menyebrang jalan, dan ia sedang berfikir. Haruskah ia menerima pinangan keluarga lelaki itu? Tangannya mencengkeram kuat-kuat tas laptop abu-abu, menghela nafas, melepaskan sedikit beban fikiran. Apakah itu keputusan terbaik dalam ruang waktunya? Apakah harus? Menikahinya?..
Di sebuah ruang dan waktu yang merambat lurus dalam bidang horizontal, ia memutuskan untuk tidak menerima pinangan lelaki tersebut. Pria itu belum lama dikenalnya, sederhana, pendiam, terkesan kurang bersemangat dan mungkin akan membuat hidupnya sengsara. Bisa jadi pula pria itu sebenarnya tidak mencintai jiwa dan ruhnya. Maka ia putuskan untuk tidak menerimanya. Sebaliknya ia berkumpul bersama sahabat-sahabatnya, Belajar, bekerja keras di laboratorium dan meninggalkan goresan luka di hatinya, ibunya dan silaturahmi keluarga yang telah terjalin dengan indah. Ia pergi bersama teman kamarnya ke restoran Sushi sederhana di Sendai Hiraki pada malam hari, berbicara tentang hidup, kembali kerumah, shalat bersama dan tersenyum. 6 bulan kemuddian ia dikenalkan dengan seorang pria lain di sebuah masjid di Asakusa. Berbicara tentang hidup dan hujan rintik-rintik. Tak lama kemudian mereka menikah dan meninggalkan celotehan keluarga serta luka di masa lalu, hidup tenang, berjalan-jalan bersama sepanjang Ogawara, saling menjadi sahabat, menjadi tua dan bahagia...
Di ruang waktu kedua dalam rambatan lurus bidang vertikal, wanita itu juga memutuskan untuk tidak menerima pinangan pria tersebut. Ia hanya tahu sedikit tentangnya. Pria itu terlalu pendiam daripada dirinya yang seringkali terlampau bersemangat. Bisa jadi pria itu terlalu rendah hati dan gerak tubuhnya adalah cerminan dari wataknya yang pemalu, tetapi ketidaktegasan itu, penggunaan kata-katanya yang ragu-ragu. Ya, Ia tidak harus menerima pinangan itu. Ia menelepon Ibunya di Jakarta, saling berdiskusi, bersikukuh dengan nada sedikit meninggi, menutup teleponnya dan menghapus semua alamat email keluarga pria tersebut. 3 tahun kemudian, wanita tersebut berjumpa dengan pria itu di sebuah perayaan ulang tahun sahabatnya. Ia dikenalkan dengan istri cantik dan putri kecilnya yang mungil. Berbicara tentang hidup dan sepotong tiramisu berlapis coklat & krim keju. Ia bahagia dengan penderitaannya..
Di dunia dalam ruang waktu ketiga, wanita bermantel coklat itu memutuskan untuk menerima pinangan pria tersebut. Ia hanya tahu sedikit tentangnya, bisa jadi si pria itu peragu dan gerak tubuhnya adalah cerminan dari wataknya yang kurang tegas, tetapi kesabarannya mempelajari ilmu, ketaatannya yang tersembunyi, kesantunannya, penggunaan kata-kata yang rendah hati itu.. Ya, ia harus menerimanya. Wanita itu mengirim pesan kepada ibunya, bertatap muka di webcam, tersenyum, berbincang-bincang tentang akhlak pria itu dalam pandangan ibunya & keluarga lelaki tersebut. Setelah satu jam wanita itu pergi ke perpustakaan, merenungkan kembali teori tentang hakikat Tuhan dan pernikahan. Sebuah sms masuk ke hpnya, ayah pria itu akan datang menemui ibunya esok lusa. Wanita tersebut menempuh perjalanan pulang sejauh sepuluh kilometer melalui Akiu, merasa bimbang sepanjang perjalanan melewati pinus berjajar, keluar dari mobilnya, masuk ke apartemen di lantai satu pinggiran road-48, shalat istikharah, mengkaji ayat suci Al-Qur`an, bermunajat di hamparan malam, dan terdiam menatap bingkai foto kosong berwarna merah jambu bertema keluarga sakinah, mawaddah, warahmah di masa depan...
Dalam sebuah imagi di Teori Relativitas Einstein, tiga rentetan peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi, serentak di satu waktu. Bagi dunia seperti ini, waktu memiliki 3 dimensi, seperti ruang. Karena satu benda bisa bergerak tegak lurus ke tiga arah; horizontal (X), vertikal (Y) dan bidang diantaranya (Z), maka sebuah benda dapat berada dalam tiga masa depan yang tegak lurus. Tiga cerita diatas hanyalah sebuah ilustrasi bagaimana probabilitas sebuah kejadian dimasa depan ditentukan dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap harinya. Bagi manusia yang berada dalam realitas dunia dalam ruang waktu yang menuntut kesiapan & kesigapan terbaik sesuai kemampuan di posisinya masing-masing, jangankan sebuah keputusan perikahan yang merupakan perjanjian teramat berat (Mitsqan Ghalizan), keputusan tentang langkah di hari ini pun harus di fikirkan. Dalam Al-Hasyr: 59 Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"
Kami tidak memiliki banyak cerita, karena insyaAllah kami baru saja akan mulai merajutnya. Alhamdulillah keinginan dari ruang waktu kami masing-masing untuk menikah. Harapan kami ialah semoga benang waktu yang akan mempersatukan rajutan detak kehidupan kami, kelak dapat menjadi sebuah tiang fondasi bagi bangunan rumah ibadah generasi yang akan datang.
Amin ya Rabbalalamiin..
WA
No comments:
Post a Comment